Take home pay (THP) adalah jumlah pembayaran bersih yang diterima oleh karyawan setelah dikurangi potongan-potongan seperti pajak penghasilan (PPh 21), BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan potongan lainnya.
Banyak orang sering salah mengartikan take home pay sebagai gaji pokok. Padahal, gaji pokok hanyalah salah satu komponen dalam perhitungan THP. Pemahaman yang jelas mengenai THP sangat penting baik bagi karyawan maupun pemberi kerja, terutama dalam perencanaan keuangan.
Perbedaan Take Home Pay dan Gaji Pokok
Meskipun sering digunakan secara bergantian, THP dan gaji pokok adalah dua hal yang berbeda. Berikut perbedaannya:
Aspek | Gaji Pokok | Take Home Pay |
---|---|---|
Definisi | Komponen utama dalam penghasilan karyawan | Gaji bersih yang diterima setelah dikurangi potongan |
Komponen | Hanya gaji pokok | Gaji pokok + tunjangan tetap + tunjangan tidak tetap + bonus – potongan (pajak, BPJS, pinjaman, dll.) |
Jumlah yang diterima | Tetap sesuai kontrak kerja | Bisa berubah tergantung tunjangan dan potongan |
Regulasi | Ditentukan dalam kontrak kerja dan regulasi UMR | Dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan dan regulasi pajak |
Dengan memahami perbedaan ini, karyawan bisa lebih mudah mengatur keuangan dan memperkirakan penghasilan bersih yang akan diterima setiap bulannya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, gaji pokok minimal harus sebesar 75% dari total gaji pokok dan tunjangan tetap yang diterima karyawan.
Komponen dalam Perhitungan Take Home Pay
Untuk memahami lebih lanjut, mari kita lihat beberapa komponen yang memengaruhi THP:
1. Pendapatan Rutin
Pendapatan rutin adalah penghasilan tetap yang diterima karyawan setiap bulan, terdiri dari:
- Gaji Pokok. Komponen utama dalam gaji karyawan.
- Tunjangan Tetap. Seperti tunjangan jabatan, tunjangan makan, dan tunjangan transportasi yang diberikan secara tetap setiap bulan.
2. Pendapatan Insidentil
Pendapatan insidentil adalah penghasilan tambahan yang tidak tetap, seperti:
- Bonus Tahunan
- Tunjangan Kinerja
- Uang Lembur
- Insentif Target
3. Potongan Gaji
THP juga dipengaruhi oleh potongan yang wajib dibayarkan, seperti:
- Pajak Penghasilan (PPh 21). Pajak yang dikenakan atas penghasilan karyawan.
- BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Iuran wajib bagi pekerja formal.
- Potongan Pinjaman Perusahaan. Jika ada cicilan pinjaman yang dilakukan melalui perusahaan.
Cara Menghitung Take Home Pay
Secara sederhana, rumus THP adalah:
Take Home Pay = (Pendapatan Rutin + Pendapatan Insidentil) – Potongan Gaji
Agar lebih jelas, mari kita lihat contoh perhitungan berikut:
Contoh Slip Gaji Karyawan:
Komponen Gaji | Nominal (Rp) |
Gaji Pokok | 7.000.000 |
Tunjangan Jabatan | 1.000.000 |
Tunjangan Transportasi | 500.000 |
Bonus Kinerja | 2.000.000 |
Uang Lembur | 500.000 |
Total Pendapatan | 11.000.000 |
Potongan PPh 21 | 500.000 |
Potongan BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan | 500.000 |
Potongan Lainnya | 200.000 |
Total Potongan | 1.200.000 |
Take Home Pay (Gaji Bersih) | 9.800.000 |
Dari contoh di atas, karyawan menerima gaji bersih sebesar Rp9.800.000 setelah dipotong pajak dan iuran lainnya.
Mengapa THP Penting bagi Karyawan dan Perusahaan?
1. Bagi Karyawan
- Membantu dalam perencanaan keuangan pribadi.
- Mengetahui penghasilan bersih yang akan diterima setiap bulan.
- Transparansi dalam potongan gaji.
2. Bagi Perusahaan
- Memastikan kepatuhan terhadap regulasi perpajakan dan ketenagakerjaan.
- Memudahkan pengelolaan payroll secara efisien.
- Menghindari kesalahan perhitungan gaji yang dapat menimbulkan sengketa.
Pentingnya Menggunakan Sistem Penggajian Otomatis
Banyak perusahaan kini menggunakan Aplikasi Payroll & Pajak Online untuk menghitung THP secara otomatis, mengurangi risiko kesalahan, serta memastikan pembayaran pajak dan BPJS tepat waktu.
Kesimpulan
Take home pay adalah penghasilan bersih yang diterima karyawan setelah dilakukan pemotongan pajak, BPJS, dan potongan lainnya. Pemahaman tentang THP sangat penting bagi karyawan agar dapat mengelola keuangan dengan baik dan bagi perusahaan dalam perencanaan anggaran penggajian.
Dengan memahami cara perhitungan THP. Karyawan dapat mengetahui berapa gaji bersih yang akan diterima setiap bulan dan mengelola keuangan dengan lebih baik.